Dari belakang sini, Aku bisa melihat teman-temanku dari sudut kelas ini. Ada yang berlari sambil bercanda, tertawa bersama, tidur, menggambar, ada juga yang sibuk memainkan jarinya di smartphone nya, ada yang sibuk berkaca, foto-foto, makan, dan lainnya. Aku bisa melihat wajah bahagia mereka dari sini.
Aku? Aku lebih memilih untuk mendengarkan musik dari Handphone-ku dengan headset, kebetulan sekarang jam istirahat dan juga tugas membuat cerpen yang diperintahkan Bu Febri baru beberapa kata yang kubuat. Padahal susananya sudah sedemikian nyamannya. Sinar Matahari yang hangat menerpa sebagian kulit tangan dan wajahku dari jendela, udara hangatnya juga menghembus dari ventilasi kelas, tak terdengar keributan, ditambah lagi tidak ada Acid yang akan mengganggu konsentrasiku. Namun Aku tak juga mendapat pandangan cerita yang harus ditulis.
Jam istirahat sudah berakhir, pikirankupun semakin kacau dengan kedatangan Acid yang suka meminta untuk berbagi mendengar lagu dari headset, jujur aku tak suka hal itu. Semua teman-teman sudah berada di bangku masing-masing, namun Aku merasakan sesuatu yang menyesakkan dari bangkuku, ternyata Aku baru saja buang angin. Rafky yang di sampingku menyadari itu.
"Idih! Siapa yang kentut ni?" lugas Rafky
"Iya nih, bau!" sahut Bagas
"Kau yang kentut nih gas" sambung Satria
"Iya tuh! betul, Bagas emang kebiasaan" Akupun ikut angkat bicara
Aku merasa bersalah akan hal yang tak disengaja itu, tapi apa boleh buat Aku harus ber-akting seolah tak terjadi apa-apa. Setelah insiden tersebut Aku mendapatkan pencerahan, terlintas semua kata-kata yang akan kutulis. Namun Aku tak yakin apa ini semua karena insiden buang angin itu atau kebetulan saja, yang jelas begini ceritanya:
"Umbang dulu!"
"satu keluuuuuar"
"nah, keluar lu yu"
Bulan Ramadhan, seperti biasa aktifitas selalu disibukkan dengan bermain. Walaupun kami sudah sering dimarahi Ibu-ibu yang sedang sholat tarawih di Musholla, namun kami tiada gentar untuk terus bermain kejar-kejaran di malam hari. Layaknya seorang prajurit yang akan berperang, kami membentuk dua kelompok yang dihasilkan dari "umbang" tadi, masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang. Kelompok yang pertama terdiri dari Wahyu, Deki, Fadhel, Zaki, dan Rian pono. Sedangkan kelompokku terdiri dari Igo, Dicky, Putra, Riyan, dan Aku.
Kami mendapat giliran lari pertama, sedangkan kelompok Wahyu yang akan mengejar kami. Kelompokku bisa dibilang cukup kuat, ada Igo yang kuat berlari lama-lama, Dicky yang sangat gesit dalam mengelak, Riyan yang selalu bermain-main jika dikejar namun selalu beruntung dalam bersembunyi, dan Aku yang bermodal kecepatan saja. Banyak dari lawan yang pernah mengejarku mengakui kecepatanku yang secepat naga namun tak terkontrol saat berhenti. Aku tak tahu itu semacam pujian atau hinaan.
"Sembunyi kemana lagi nih?" tanyaku sambil terus berlar
"Di sini aja!" Igo mulai memutuskan.
"Riyan dimana?" tanya Dicky
"Ntahlah, tadi dia lari sendiri, panik mungkin" jawabku.
"ssstt.... ada yang lewat" Igo menenangkan.
Terlihat Wahyu sedang mencari-cari sesuatu, sudah pasti dia mencari kami, tiba-tiba matanya tertuju ke arah kami. Kami semua mulai panik, bukannya ke sini, dia malah pergi. Kami pun heran kenapa dia tiba-tiba pergi padahal dia sudah melihat kami. Jujur saja, mata Wahyu memang sangat tajam dibanding teman-temannya yang lain. Sejenak suasana menjadi hening. Tiba-tiba terdengar suara yang tak terduga datang dari belakang kami.
"Pyuuuuuu...tt"
Ya, itu suara reaksi kimia yang tercipta dari balik celana Igo, dan aromanya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. tak ada kata dari mulut kami, hanya bisa menutup hidung sambil terus berusaha memukul Igo bersama-sama, namun hanya pukulan candaan. Tiba-tiba sosok tak terduga sudah berdiri di hadapan kami, sorot matanya tajam, tak terlihat jelas karena gelap, namun Aku bisa melihat giginya yang tongos itu nyengir bahagia. Ya, dia Wahyu, yang sejak tadi sudah mengintai kami dari jauh. Ternyata dia belum balik dari tadi, dia berpura-pura tidak tahu bahwa kami ada di belakang rumah pak botok. Kami bersembunyi di sana karena cukup gelap dan tak terlihat.
Kami yang sedang ayik menghajar Igo sangat kaget dengan kehadirang Wahyu.
"Naaaahh..... mau kemana lagi kalian?" ucap Wahyu sambil nyengir.
"Kabuuuuurrr....." Seru kami bersama-sama.
"lah, Igo mana?" tanya Putra
"dapet tuh, sama Wahyu." jelas Dicky
"Waaaaaa....!!!" Seolah melihat hantu, kami dikejutkan dengan kedatangan Fadhel di hadapan kami.
"alaah, Fadhel gendutpun. santai aja larinya. paling juga udah capek duluan." Tegasku.
"Ke belakang Musholla yuk" Seru Dicky
"Oke juga tuh" seruku.
Setibanya di belakang Musholla, kami melihat seseorang tengah duduk di dekat keranda mayat.
"woi, liat tuh, ada yang duduk." Bisik Putra sambil memegangi Aku dan Dicky.
"Yaelah, itu Riyan lagi sembunyi" Ujarku.
"Woi yan, ngapain kamu di sana?!" Sahut Putra namun masih memegang pundak kami sambil merasa ketakutan
"Ada orangnya woi, kabur!" entah siapa yang berkata Aku langsung berlari kemanapun Aku bisa agar tak tertangkap oleh mereka.
Aku terpisah dari kelompokku, Deki yang merupakan kembaran dari Dicky memiliki kelincahan yang sama dengan kembarannya, sehingga Aku kewalahan kabur dari kejarannya, saat Aku berlari Aku melihat Dicky, Putra, Zaki, Fadhel dimarahi oleh Ibu-ibu. Kami berhenti sejenak unutk melihat masalah apa lagi yang didapatkan teman-temanku ini.
"Pokoknya kalian harus ganti, atau tidak saya lapor polisi."
Ibu-ibu tersebut memarahi teman-teman kami sambil memegang sebuah paralon yang patah.
Ternyata Dicky yang memang ahli dalam memanjat sudah mematahkan Pipa air Ibu itu, dia nekat memanjat ke atap rumah Ibu itu dengan memijak pipa air, bukannya sampai ke atas untuk bersembunyi dia malah mematahkannya.
"Baik buk, kami akan menggantinya."
ucap salah seorang di antara kami. Karena kami bermain bersama, kamu harus bertanggung jawab bersama-sama juga. Kami membantu Dicky untuk mencari ganti paralon yang patah tersebut hingga larut malam, padahal jika kami tidak berbuat onar seperti ini, kami bisa ikut tadarus di musholla.
"Makanya, besok-besok kalau mau sembunyi jangan ke atas atap rumah orang lagi." nasehat Igo kepasa yang lain
"Iya, batul, dan juga jangan di dekat keranda mayat juga." Ucapku
"Itu tadi aku kira pintu rumah orang, serius" Tegas Riyan.
"Kamu lagi ilusi kaliii" Ledek Zaki.
Sejak saat itu, kami masih bermain namun dengan aturan dan batas berlari tertentu, seperti tidak melewati Musholla dan Parit yang memang gelap di kampung kami. Namun di usia kami yang sudah beranjak remaja kami sudah tidak pernah lagi bermain. Riyan yang sudah putus sekolah dan sekarang menjadi buruh, Wahyu, Aku, Igo, dan Fadhel yang sudah beranjak SMA. Kami rindu masa-masa tersebut dan masih sering menceritakan pengalaman yang konyol itu sesekali.
Itulah kami, Konyol namun tetap terkenang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar