Sabtu, 07 Februari 2015

Noob

   Jadi ceritanya masih bingung nih mau nulis apa. Udah lama banget ga nulis, jadi dimaklumi aja ya hehe. Padahal udah niat banget pengen nulis. Bagusan cerita apa nih?
Oh ya,
Ada
Oke
Cabut~

   Jadi ceritanya 30 Januari kemarin, Temen aku Feby ngerayain  ulltahnya yang ke -17 di hotel ardut. Ultahnya bisa dibilang mewahlah, ya karena emang mewah siih. Secara di hotel gitumah. Jadi aku bukan bahas tentang pestanya. Tapi tentang cerita pas otw (cielah otw) sama kekonyolan kami di pesta. Jadi sebelum berangkat kami ngumpul dulu di rumah dheny (baca: bapak). Di rumah bapak, maksudnya dheny, kami berangkat sama-sama ke ultahnya feby. Tapi, karena aku prihatin sama rifky yang ngerasa masih di rumahnya (make sendal), aku mengajaknya ke rumahku dulu untuk memakai(sewa) sepatuku sementara, sekalian nambah jajan kan, hehe. Gaaa, becanda. Ya aku pinjemin dah sepatu aku. Tapi yang lain udah ninggalin kami duluan, yaudah kami berangkatnya berdua aja. Kebetulan aku yang nebeng. Jadi pas di jalan aku sama rifky sempet kebingungan jalan ke dipo. Karena kegelapan malam sepertinya membutakan arah kami~

"Bim, lewat mana ni bim?"
"Kayanya lewat senapelan ky, mungkin"
Rifky percaya aja~
"Ini udah di simpang, belok mana ni bim?"
"Lurus mungkin ki"
  padahal aku lagi liat hp dan ga tau kenapa rifky tiba-tiba bawa motornya kaya mau ketabrak. Pas  aku liat kami lewat di antara dua mobil:)) pas di tengah tengahnya~

"Perboden bim!!"

  Dengan penuh rasa kecewa rifky mengungkapkan kata kata tsb. Lalu kami mengambil jalan ke arah jalan protokol. Di sana biasanya ada polisi yang msnertibkan lalu-lintas. Namun kami tetap memaksa untuk lewat sana karena satusatunya jalan agar tak tersesat cuma lewat sana.
   Dari kejauhan kami melihat ada dua orang polisi yang berdiri melihat orang lalu lalang sambil menertibakan beberapa pemotor yang tidak lengkap. Yang satu berdiri di tengah jalan, sedangkan yang satunya berdiri di pinggir jalan. Rifky yang membawa motor dengan penuh ke-enjoy-an rifky mengambil jalur kiri dan seketika motor rifky mogok tepat di depan antar dua polisi tadii!! Salah satu polisi berteriak seolah ingin menangkap kami. Aku yang ketakutan langsung turun dan berlari ke seberang jalan. Rifky yang tadinya santai mendorong motornya dengan penuh kepanikan. Semua orang berteriak dan menglakson kami seolah kami maling, huft.  Rifky juga menyangka bakal ditangkap, tapi polisinya kayanya gapeka. Kami dibiarin gitu aja tancap gas lagi meskipun aku udah duluan daripada rifky~

 
Btw ini sekilas cerita lama di tahun 2015. Sekarang 1 maret 2016, baru ngebuka blog lagi setelah berabad abad kemudian hehe. Jadi kebanyak cerita ini udah mulai lupa. Maklum efek menjelang UN. Agak baper juga sih karena ga bisa ikut smptn. Next story bakal dipost kok.
Thanks for read my blog guys!!

Kamis, 29 Mei 2014

Indonesia Negeriku

Indonesia negeri yang kaya, katanya...
Surganya segala kebutuhan,
Di lautan ada ikan, di daratan banyak sayuran, di kota..
Koruptor berkeliaran.

Indonesia negeri yang indah, katanya...
Tempatnya tuk melepas kepenatan,
Ada kuta, Losari, Rupat, Bono, Maninjau..
Namun dipenuhi sampah manusia.

Hanya bisa melihat dari TV
Tak ada yang dapat kulakukan
Selain menyanyikan lagu ini..

Do'akan Indonesia maju, Relakan koruptor mati
Misalnya masih bertingkah, Fastikan hukumnya lancar
Soal kasus jangan ditunda, Lama-lama bisa jenuh
Siapa yang tlah bersalah, Dorong langsung ke tahanan

Indonesia negeri yang damai, katanya...
Ramah tamah bermusyawarah
Namun ini kenyataan Indonesiaku
Indonesia tanah anarki

Indonesia negeri yang aman, katanya...
Merah putih benderanya
Dilalui musibah silih berganti
Merah dadanya, Putih kafannya

Hanya bisa melihat dari TV
Tak ada yang dapat kulakukan
Selain menyanyikan lagu ini..

Do'akan Indonesia maju, Relakan koruptor mati
Misalnya masih bertingkah, Fastikan hukumnya lancar
Soal kasus jangan ditunda, Lama-lama bisa jenuh
Siapa yang tlah bersalah, Dorong langsung ke tahanan

Jumat, 16 Mei 2014

Masa lalu, Masa konyol.

  Dari belakang sini, Aku bisa melihat teman-temanku dari sudut kelas ini. Ada yang berlari sambil bercanda, tertawa bersama, tidur, menggambar, ada juga yang sibuk memainkan jarinya di smartphone nya, ada yang sibuk berkaca, foto-foto, makan, dan lainnya. Aku bisa melihat wajah bahagia mereka dari sini.

  Aku? Aku lebih memilih untuk mendengarkan musik dari Handphone-ku dengan headset, kebetulan sekarang jam istirahat dan juga tugas membuat cerpen yang diperintahkan Bu Febri baru beberapa kata yang kubuat. Padahal susananya sudah sedemikian nyamannya. Sinar Matahari yang hangat menerpa sebagian kulit tangan dan wajahku dari jendela, udara hangatnya juga menghembus dari ventilasi kelas, tak terdengar keributan, ditambah lagi tidak ada Acid yang akan mengganggu konsentrasiku. Namun Aku tak juga mendapat pandangan cerita yang harus ditulis.

  Jam istirahat sudah berakhir, pikirankupun semakin kacau dengan kedatangan Acid yang suka meminta untuk berbagi mendengar lagu dari headset, jujur aku tak suka hal itu. Semua teman-teman sudah berada di bangku masing-masing, namun Aku merasakan sesuatu yang menyesakkan dari bangkuku, ternyata Aku baru saja  buang angin. Rafky yang di sampingku menyadari itu.

"Idih! Siapa yang kentut ni?" lugas Rafky
"Iya nih, bau!" sahut Bagas
"Kau yang kentut nih gas" sambung Satria
"Iya tuh! betul, Bagas emang kebiasaan" Akupun ikut angkat bicara

Aku merasa bersalah akan hal yang tak disengaja itu, tapi apa boleh buat Aku harus ber-akting seolah tak terjadi apa-apa. Setelah insiden tersebut Aku mendapatkan pencerahan, terlintas semua kata-kata yang akan kutulis. Namun Aku tak yakin apa ini semua karena insiden buang angin itu atau kebetulan saja, yang jelas begini ceritanya:

  "Umbang dulu!" 
  "satu keluuuuuar"
  "nah, keluar lu yu"

 Bulan Ramadhan, seperti biasa aktifitas selalu disibukkan dengan bermain. Walaupun kami sudah sering dimarahi Ibu-ibu yang sedang sholat tarawih di Musholla, namun kami tiada gentar untuk terus bermain kejar-kejaran di malam hari. Layaknya seorang prajurit yang akan berperang, kami membentuk dua kelompok yang dihasilkan dari "umbang" tadi, masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang. Kelompok yang pertama terdiri dari Wahyu, Deki, Fadhel, Zaki, dan Rian pono. Sedangkan kelompokku terdiri dari Igo, Dicky, Putra, Riyan, dan Aku.

  Kami mendapat giliran lari pertama, sedangkan kelompok Wahyu yang akan mengejar kami. Kelompokku bisa dibilang cukup kuat, ada Igo yang kuat berlari lama-lama, Dicky yang sangat gesit dalam mengelak, Riyan yang selalu bermain-main jika dikejar namun selalu beruntung dalam bersembunyi, dan Aku yang bermodal kecepatan saja. Banyak dari lawan yang pernah mengejarku mengakui kecepatanku yang secepat naga namun tak terkontrol saat berhenti. Aku tak tahu itu semacam pujian atau hinaan.

  "Sembunyi kemana lagi nih?" tanyaku sambil terus berlar
  "Di sini aja!" Igo mulai memutuskan.
  "Riyan dimana?" tanya Dicky
  "Ntahlah, tadi dia lari sendiri, panik mungkin" jawabku.
  "ssstt.... ada yang lewat" Igo menenangkan.

 Terlihat Wahyu sedang mencari-cari sesuatu, sudah pasti dia mencari kami, tiba-tiba matanya tertuju ke arah kami. Kami semua mulai panik, bukannya ke sini, dia malah pergi. Kami pun heran kenapa dia tiba-tiba pergi padahal dia sudah melihat kami. Jujur saja, mata Wahyu memang sangat tajam dibanding teman-temannya yang lain. Sejenak suasana menjadi hening. Tiba-tiba terdengar suara yang tak terduga datang dari belakang kami.

  "Pyuuuuuu...tt"

 Ya, itu suara reaksi kimia yang tercipta dari balik celana Igo, dan aromanya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. tak ada kata dari mulut kami, hanya bisa menutup hidung sambil terus berusaha memukul Igo bersama-sama, namun hanya pukulan candaan. Tiba-tiba sosok tak terduga sudah berdiri di hadapan kami, sorot matanya tajam, tak terlihat jelas karena gelap, namun Aku bisa melihat giginya yang tongos itu nyengir bahagia. Ya, dia Wahyu, yang sejak tadi sudah mengintai kami dari jauh. Ternyata dia belum balik dari tadi, dia berpura-pura tidak tahu bahwa kami ada di belakang rumah pak botok. Kami bersembunyi di sana karena cukup gelap dan tak terlihat.

  Kami yang sedang ayik menghajar Igo sangat kaget dengan kehadirang Wahyu.

"Naaaahh..... mau kemana lagi kalian?" ucap Wahyu sambil nyengir.
"Kabuuuuurrr....." Seru kami bersama-sama.
"lah, Igo mana?" tanya Putra
"dapet tuh, sama Wahyu." jelas Dicky
 "Waaaaaa....!!!" Seolah melihat hantu, kami dikejutkan dengan kedatangan Fadhel di hadapan kami.
 "alaah, Fadhel gendutpun. santai aja larinya. paling juga udah capek duluan." Tegasku.
 "Ke belakang Musholla yuk" Seru Dicky
 "Oke juga tuh" seruku.

  Setibanya di belakang Musholla, kami melihat seseorang tengah duduk di dekat keranda mayat.
 "woi, liat tuh, ada yang duduk." Bisik Putra sambil memegangi Aku dan Dicky.
 "Yaelah, itu Riyan lagi sembunyi" Ujarku.
 "Woi yan, ngapain kamu di sana?!" Sahut Putra namun masih memegang pundak kami sambil merasa ketakutan
 "Ada orangnya woi, kabur!" entah siapa yang berkata Aku langsung berlari kemanapun Aku bisa agar tak tertangkap oleh mereka.

  Aku terpisah dari kelompokku, Deki yang merupakan kembaran dari Dicky memiliki kelincahan yang sama dengan kembarannya, sehingga Aku kewalahan kabur dari kejarannya, saat Aku berlari Aku melihat Dicky, Putra, Zaki, Fadhel dimarahi oleh Ibu-ibu. Kami berhenti sejenak unutk melihat masalah apa lagi yang didapatkan teman-temanku ini.

  "Pokoknya kalian harus ganti, atau tidak saya lapor polisi."
 
 Ibu-ibu tersebut memarahi teman-teman kami sambil memegang sebuah paralon yang patah.
 Ternyata Dicky yang memang ahli dalam memanjat sudah mematahkan Pipa air Ibu itu, dia nekat memanjat ke atap rumah Ibu itu dengan memijak pipa air, bukannya sampai ke atas untuk bersembunyi dia malah mematahkannya.
 
  "Baik buk, kami akan menggantinya."
  ucap salah seorang di antara kami. Karena kami bermain bersama, kamu harus bertanggung jawab bersama-sama juga. Kami membantu Dicky untuk mencari ganti paralon yang patah tersebut hingga larut malam, padahal jika kami tidak berbuat onar seperti ini, kami bisa ikut tadarus di musholla.

  "Makanya, besok-besok kalau mau sembunyi jangan ke atas atap rumah orang lagi." nasehat Igo kepasa yang lain
  "Iya, batul, dan juga jangan di dekat keranda mayat juga." Ucapku
  "Itu tadi aku kira pintu rumah orang, serius" Tegas Riyan.
  "Kamu lagi ilusi kaliii" Ledek Zaki.

  Sejak saat itu, kami masih bermain namun dengan aturan dan batas berlari tertentu, seperti tidak melewati Musholla dan Parit yang memang gelap di kampung kami. Namun di usia kami yang sudah beranjak remaja kami sudah tidak pernah lagi bermain. Riyan yang sudah putus sekolah dan sekarang menjadi buruh, Wahyu, Aku, Igo, dan Fadhel yang sudah beranjak SMA. Kami rindu masa-masa tersebut dan masih sering menceritakan pengalaman yang konyol itu sesekali.

Itulah kami, Konyol namun tetap terkenang.

Senin, 05 Mei 2014

Kepala baru, Nama baru, Hidup baru.

ya gini... hidup aku sekarang.

  di tiap langkahku aku harus sabar menjalani hidupku yang penuh cobaan.
Lain kaki yang kulangkah, lain pula ujian yang harus kutempuh.

"BOTAK!!"
"Tuyul!"
"woy, hajar aswad!"
"woy, rexona!"
"woy, lampu taman!"
"Kepala kau kenapa bim?"

Itu.. baru 6 langkah yang kutempuh, belum lagi kalau aku disuruh lari pas olahraga. Beragam suku kata yang harus kudengar dari mereka yang sangat baik hati meluangkan waktunya untuk menyapaku :)
 Jadi ceritanya aku habis pangkas rambut, yah.. kira-kira 3 hari yang lalulah.
Aku sempet di-colak-in pas sidak hari senin lalu. Jadi hari rabunya baru deh aku mutusin buat ngerapiin rambut klimis ku yang jadi berantakan. (Jujur jadi inget sama pomade).


Bima belum botak : "Bang, pangkas bang"
tukang pangkas     : "mau diapain nih dek? pendekin aja?"
Bima belum botak : "bolehlah.."
Bima belum botak : "botakin ajadeh bang, kaya gini" *nunjukin foto iko uwais di film the raid2*
tukang pangkas     : *ngangguk*

Lagi serius motong, tiba-tiba ada orang beli kerupuk di warung kecil yang kebetulan juga punya dia.
Dia berenti sebentar, sementara rambut aku baru sebelah kiri doang yang dihabisin!
aku coba make kacamata aku, aku liat kepala aku rambutnya cuma sebelah kanan-_- aku nyengir sedih.
trus abang pangkasnya nanya "kenapa ketawa dek?" - "ini gayanya... emang gini bang?" - "ya, kalo mau gini ya gapapa" - "gak deh bang, lanjutin" (dalam hati udah ngutuk-ngutuk -_- ini tukang pangkas jawabannya polos atau emang mau cari untung doang?)

Sejak saat itu, aku gabisa make pomade lagi:'( aku meraba-raba rambutku yang panjangnya cuma satu senti itu, mencoba mengingat kembali saat-saat bersama rambut klimisku. Aku merasa kehilangan atas kepergiannya:" dan juga aku kehilangan harga diriku sebagai lelaki.

 Tiap lewat kepala aku ini kaya hajar aswad, suka dipegang. Kalo bahasa awamnya kepala aku ni suka di grepe-grepe sama temen-temen. Aku merasa udah ga suci lagi sejak semua orang menyentuh kepalaku dengan senonoh:"

Tangan-tangan kotor itu...

Aku masih ingat tangan siapa itu..

----------

Kalo kita bandingin dengan berita-berita yang lagi hangat tentang kekerasan seksual di kalangan anak-anak, mungkin topik kekerasan terhadap orang botak mungkin lebih banyak peminatnya yang mau nonton, dan juga bakal ditemukan kasus pengidap penyakit baru lagi. yang namanya bla-bla phelialah, anemia-lah, apalah..

tapi yang jelas, kasus-kasus kek gitu tu ga ada hubungannya dengan pengidap penyakit atau virus MERS. Dunia ni aja yang makin aneh, ya gak? isinya udah pada gak beres, yang bakar hutanlah, merkosa anak kecil lah, ulama ketauan mesumlah. Sekarang udah bukan jaman globalisasi lagi. Ini udah jaman naturalisasi. dimana orang lebih senang melampiaskan kesenangannya sendiri dibandingin mikirin kepentingan orang lain. Orang-orang udah pada ga peduli dengan keadaan rumah, mereke lebih memilih mebuat acara di luar dibanding makan bareng keluarganya.

Ini zaman dimana orang ga ada segannya, semua orang udah mulai natural, alami ngeluarin sifatnya, alami melakukan semua hal, tanpa peduli akibatnya.

*Jadi sebenarnya kita ngebahas kepala aku atau berita di tivi ya?

Yaudah, sedikit pesan.
Jangan peduliin apa yang aku sebutin tadi, anggap aja kalian belum ngebacanya. introspeksi diri, sadar akan apa yang telah terjadi di dunia ni. Sadar kalau bukan es di kutub aja yang udah mencair, sadar kalau orangtua kita udah mulai keriput. sadar kalo para ulama udah mulai jarang dijumpai, paling juga ustad kondang yang banyak, dan sadar akan jiwaku yang tlah rapuh (?)
 OK.




Sabtu, 19 April 2014

Melancholy

 hey, kenalin.
  Namaku Bima (disamarkan), biasa dipanggil Bima, dan sebut saja Bima, dan yang pasti bukan chota Bheem.
Semua orang boleh manggil aku apa aja, asal jangan nama itu. Kecuali namanya dari karakter kartun yang lebih gimana gitu. Contoh: "heh Sasuke, iya! kamu. yang make kacamata". kalo yang ginian mungkin bisa diterima.
  Oke, Aku lahir dari keluarga kecil, sederhana, dan Bahagia. Lengkaplah rasanya kalo jadi anak tunggal.
Namun semua berubah saat negara api menyerang. Gak, gak. ngaur nih. Umur masih 15 tahun. Status pelajar. Dan yang pasti. Udah sunat.
 Jadi singkatnya, Umur 7 tahun Aku udah ditinggal mati sama Bunda. Bunda meninggal karena Leukimia yang dideritanya, lebih ngarah ke lupus juga sih sakitnya. Bunda sempet bilang "Abim harus jadi dokter buat nyembuhin Bunda". But, that's not easy mom:) dan itu juga bukan pilihanku. Lagian aku udah terlambat buat nyembuhin Bunda.
 Waktupun berlalu, 5 tahunpun berlalu. Aku menjalani semuanya bareng Upi. Walaupun Upi itu seorang ayah, tapi dia ngelakuin aku kaya punya keduanya. Dia manjain aku, dia selalu ngasih aku saran maupun nasehat, dia rawat aku kalo sakit. Hingga hari itu, firasat aku hari itu tiba-tiba ga enak. Biasanya yang nganterin berangkat sekolah Upi, hari itu harus naik oplet. Biasanya kalo dicium langsung bangun, hari itu juga upi tiba-tiba ngebentak aku. Aku lihat dia kaya nahan sakit gitu. Aku marahan sama dia waktu itu, ambil uang jajan, langsung cabut naik oplet. Tapi, itu terakhir kali aku ketemu upi. Subuhnya Upi meninggal. Katanya karena angin duduk. Aku ga tau pasti, tapi yang jelas, malamnya aku mimpi upi meninggal. Subuhnya beneran meninggal.
  Kalo aku ceritain kaya gini biasanya sih banyak yang nanyain "trus, kau gimana?","apa perasaan kau waktu tu?". Rasanya yaaah.. banyaklah. bingung, kaget, marah, dendam entah sama siapa, pokoknya hal itu akan mengubah hidup kau kedepannya. Kau akan jadi orang yang berbeda, kau bukan orang yang manja, lembut, dan baik lagi.
 
-  "Orang yang kehilangan cintanya, akan kehilangan kenangan tentangnya."  -